Pelangi
bidadari langit dengan lengkung garis indah penuh warna (kata orang-orang).
Seringai keindahan pelangi mampu dikagumi banyak orang, tapi aku? Kepala ini
tertunduk entah menatap apa yang ada dihadapan, semua terlihat gelap. Jari
telunjuk ini kuputar hendak menggambar sesuatu. Terdengar suara anak-anak
berlarian dengan teriakan girang menyerukan datangnya bidadari langit. Aku ingin
mengikuti mereka yang berlarian, tapi mustahil. Tangan kukibas-kibaskan
memastikan keadaan di sekelilingku.
“Bunda,
bunda!” seseorang menggenggam tanganku dengan sigap tetapi halus dan penuh
kasih saying. Ya, itu bundaku. Tidak cukup puas aku memastikan keadaan di
sekelilingku, “Bunda, ada pelangi ya? Bunda bunda! Bagaimana bidadarinya?
Cantikkah? Indahkah? Ceritakan bunda!” jari-jariku menggenggam erat jari bunda,
menginginkan kepastian atas apa yagn aku tanyakan.
Aku
masih hening menunggu jawaban dari bunda, tapi tak terdengar apapun, aku
membuka mulutku dengan kepastian mendalam, “kenapa bunda diam?”
Bunda
memecah suasana bungkam, “iya kencana, bunda lihat itu. Pelangi itu indah
sekali.” Genggaman tangan bunda semakin erat melingkar dijemari, mengusap
lembut keningku.
“Sungguh
bunda? Bagaimana denganku? Kapan aku bisa melihat pelangi itu? Seperti mereka
bunda? Berlarian. Pelangi itu indah hanya dalam angan-anganku. Semuanya gelap.”
“Nak,
Tuhan saying padamu sama seperti mereka yang mampu melihat. Tak perlu menunggu
waktu lama untuk melihat pelangi. Pegang kedua pipimu dengan telapak tanganmu,
kamu rasakan, dan itulah pelangi milik bunda yang terindah. Kalau kamu melihat
sekelilingmu gelap, peluk bunda. Kasih saying bunda jauh lebih berwarna daripada
pelangi.”
Mensyukuri
apa yang kita punya, jauh lebih indah daripada pelangi.
Itu
cerpen buatan adek kelas gue di perkuliahan. Namanya ‘Windy R’. Sebenarnya gue
tau nama kepanjangannya apa, cuma layaknya sesama penulis (bedanya dia penulis
cerpen keren gue penulis cerita aib sendiri) mesti saling menulis nama pena-nya
penulis. (cei-lah bahasanya tinggi banget yak)
Menurut
gue ceritanya awal-awal sih biasa, tapi akhirnya agak ‘sad’ yah? Gue gak tau si Windy itu kursus bikin cerpen yang keren
dan bikin mewek dimana, cuma table maner dia kayaknya kurang bagus. Soalnya
Buletinnya kan dibaca dosen juga paling gak kan. Terus kalo pas lagi rapat ama
jejeran senat, rektor dan dekan si dosen malah baca cerpen si Windy terus
mewek-mewek sendiri gimana yak? Repot juga ntar yang pengurus Buletin
MEDIASI-nya. Jadi bingung gue. Well, dari pada bingung udah dulu yak? Temu lagi
besok2 yak. Hahahaha.
0 komentar:
Posting Komentar