Jumat, 07 Desember 2012

Kapan Aku Melihat Indahnya Pelangi?


Pelangi bidadari langit dengan lengkung garis indah penuh warna (kata orang-orang). Seringai keindahan pelangi mampu dikagumi banyak orang, tapi aku? Kepala ini tertunduk entah menatap apa yang ada dihadapan, semua terlihat gelap. Jari telunjuk ini kuputar hendak menggambar sesuatu. Terdengar suara anak-anak berlarian dengan teriakan girang menyerukan datangnya bidadari langit. Aku ingin mengikuti mereka yang berlarian, tapi mustahil. Tangan kukibas-kibaskan memastikan keadaan di sekelilingku.
“Bunda, bunda!” seseorang menggenggam tanganku dengan sigap tetapi halus dan penuh kasih saying. Ya, itu bundaku. Tidak cukup puas aku memastikan keadaan di sekelilingku, “Bunda, ada pelangi ya? Bunda bunda! Bagaimana bidadarinya? Cantikkah? Indahkah? Ceritakan bunda!” jari-jariku menggenggam erat jari bunda, menginginkan kepastian atas apa yagn aku tanyakan.
Aku masih hening menunggu jawaban dari bunda, tapi tak terdengar apapun, aku membuka mulutku dengan kepastian mendalam, “kenapa bunda diam?”
Bunda memecah suasana bungkam, “iya kencana, bunda lihat itu. Pelangi itu indah sekali.” Genggaman tangan bunda semakin erat melingkar dijemari, mengusap lembut keningku.
“Sungguh bunda? Bagaimana denganku? Kapan aku bisa melihat pelangi itu? Seperti mereka bunda? Berlarian. Pelangi itu indah hanya dalam angan-anganku. Semuanya gelap.”
“Nak, Tuhan saying padamu sama seperti mereka yang mampu melihat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk melihat pelangi. Pegang kedua pipimu dengan telapak tanganmu, kamu rasakan, dan itulah pelangi milik bunda yang terindah. Kalau kamu melihat sekelilingmu gelap, peluk bunda. Kasih saying bunda jauh lebih berwarna daripada pelangi.”
Mensyukuri apa yang kita punya, jauh lebih indah daripada pelangi.
Itu cerpen buatan adek kelas gue di perkuliahan. Namanya ‘Windy R’. Sebenarnya gue tau nama kepanjangannya apa, cuma layaknya sesama penulis (bedanya dia penulis cerpen keren gue penulis cerita aib sendiri) mesti saling menulis nama pena-nya penulis. (cei-lah bahasanya tinggi banget yak)
Menurut gue ceritanya awal-awal sih biasa, tapi akhirnya agak ‘sad’ yah? Gue gak tau si Windy itu kursus bikin cerpen yang keren dan bikin mewek dimana, cuma table maner dia kayaknya kurang bagus. Soalnya Buletinnya kan dibaca dosen juga paling gak kan. Terus kalo pas lagi rapat ama jejeran senat, rektor dan dekan si dosen malah baca cerpen si Windy terus mewek-mewek sendiri gimana yak? Repot juga ntar yang pengurus Buletin MEDIASI-nya. Jadi bingung gue. Well, dari pada bingung udah dulu yak? Temu lagi besok2 yak. Hahahaha.

0 komentar:

Posting Komentar