Jumat, 07 Desember 2012

Journey To The Other Dimention

Gank Laras mengerjai kami. Terpaksa kami melawan dengan mengeluarkan kekuatan kami. Kami melawan mereka. Dan kami menang. Namun karena terkena serangan kami, kami membuat sebagian daerah sekolah rusak. Kami dihukum untuk membersihkan loteng sekolah. "Yah,,, gara-gara gank Laras kita jadi dihukum," keluh Nabil. "Sudahlah, kita juga yang ngak bisa mengendalikan diri, jadi ngak tahan emosi, trus keluarin kekuatan. Ya kan Eva?" kata Dinda. "Iya. Emang kita yang salah." jawabku. "Aduhhh." teriak Nisa tiba-tiba setelah jatuh tersandung sebuah buku. "Lho, kok ada buku? Setahuku sekolah ngak pernah nyimpan buku di loteng lho." kata Darren sambil membuka buku itu. Dibelakangnya ada aku.


"Syukurlah, kalian sudah bangun." kata Darren tiba-tiba. "Yang tercium dari hidungku adalah bau yang tidak
asing, yaitu bau ketika aku mengunjungi Darren yang pernah terkena typhus."kata Dinda. Ya, tidak salah lagi. Ini adalah rumah sakit." pikir Dinda. "Lho, di mana ini?" tanya Nabil ketika bangun dari tidurnya. "Kata dokter Albert Einstein, ini adalah dimensi 11." kata Darren. "Jadi, Albert Einstein tidak meninggal ya?" tanya Dinda yang ada di tempat tidur di sebelahku. "Iya. Aku tidak meninggal. Aku hanya pergi ke dimensi 11 untuk mencari rumus baru yang mungkin dibutuhkan oleh bumi. Aku menaruh buku, yaitu buku untuk masuk ke dimensi 11 di loteng sekolah Einstein, yaitu sekolahku." jelas Albert Einstein panjang lebar secara tiba-tiba, yang masuk ruangan seperti kecoak masuk dari lubang bawah pintu tanpa suara. Nabil dan Dinda berusaha untuk duduk, tapi percuma, sekuat tenaga mereka berusaha, tetap saja tidak bisa. "Jangan dipaksakan, dada kalian masih luka." kata Nisa sambil menunjuk dada Nabil dan dada Dinda. "Kok kalian sehat-sehat saja, sedangkan aku dan Nabil terluka?" tanya Dinda penuh keheranan. "Pas kita masuk dimensi ke 11, kalian terkena batu dan pingsan. Dada dan tangan kalian luka. " jelas Darren. "Ohhhhh." jawab Nabil singkat. "Kalian mau mulai pertualangan baru?" tanya Albert Einstein yang dari tadi hanya melihat kami ngobrol. "Boleh." jawab kami semua serentak. "Kalau begitu, akan kuberi Dinda dan Nabil obat untuk menyembuhkan dada yang sakit." kata Albert Einstein sambil keluar ruangan. Dua detik kemudian dia kembali sambil membawa 2 tabung minuman. "Nih, minum. Maka dada kalian tidak akan sakit lagi." kata Albert Einstein sambil memberi Nabil dan Dinda minuman. "Terima kasih." kata Nabil kepada Albert Einstein. Nabil dan Dinda segera meneguknya. Tubuh mereka langsung sehat. "Ini tas untuk kalian berlima. Ada sejumlah pertualangan yang hanya bisa dilewati oleh 5 anak spesial yang memiliki kekuatan. Kalianlah orangnya." kata Albert Einstein sambil menyodorkan 5 buah tas kecil. "Kembalilah jika kalian telah selesai menjalani pertualangan dan bawalah 5 buah huruf. Kalian harus berdamai dengan nama yang tercipta oleh kelima huruf itu." lanjutnya. "Baiklah." jawab kami. Ini pintu menuju ke tempat pertualangan." kata Albert Einstein sambil menunjukkan sebuah pintu yang terdapat di pojok ruangan. Kami segera memasukinya. "Gelap sekali." keluh Darren. "Setahuku Darren dulu tidak seperti itu. Darren yang dulu punya banyak akal. Apa akalmu sekarang?" tanyaku kepada Darren. "Oh iya, coba lihat di tas. " katanya sambil membuka tas. Terdapat sebuah surat di tasnya Darren.  

"Ini adalah tas 11 dimensi. Sebutkan saja apa benda yang kalian inginkan dan itu akan keluar."


Begitu singkat isi surat tersebut. Surat yang sama pun terdapat pada tasku, Nabil, Dinda, dan Nisa. "Aku ingin senter." kata Darren kepada tasnya. Tiba-tiba muncullah sebuah senter. Jadi kami menggunakan senter tersebut untuk menerangi jalan. Setelah lama berjalan, kami merasa haus. "Ngak usah minta ke tas, minta sama Nisa saja. Dia kan punya kekuatan air." kata Dinda kepada kami semua. "Iya juga sih." kata Darren mengiyakan. "Baiklah, ini. Buka mulut kalian," kata Nisa sambil memberi kami semua dan dirinya sendiri air. Namun sebuah semprotan air meleset dan mengenai lantai. Sebuah bongkahan berbentuk huruf  "L" keluar. "Ohhhhh. Ini pasti huruf yang diceritakan Dokter Einstein. Tapi kita masih butuh 4 lagi khan." kataku kepada Darren. "Iya juga sih." kata Nabil yang dari tadi nguping. "Ihhh, dasar si Nabil ini. Dari tadi nguping terus kerjanya." marahku kepada Nabil. "Hehehehehe." tawa Nabil singkat. Kami melanjutkan perjalanan kami. Baru sebelas langkah kami berjalan, lampu senter redup. "Bagaimana ini?" tanya Dinda khawatir. "Tenang saja, kita minta lampu terus nyalain pakai listrikku." kata Nabil sambil menunjukkan gaya superhero. "Hahahaha. Boleh juga sih. Tapi hentikan gaya konyolmu tersebut." kata Nisa sambil tertawa. "Hahahaha." kami semua tertawa kecuali Nabil setelah melihat Nabil memajukan bibirnya sepanjang 2 cm. "Bener-bener mirip bebek lho Bil." goda Darren kepadanya."Sudahlah. Hentikan main-mainnya." kataku kepada mereka sambil melerai mereka. Aku segera meminta lampu. Setelah itu, aku memberi Nabil lampunya."Makasih ya." kata Nabil sambil menghidupkan lampu. "Wow. Bener-bener terang. Baru jalan 4 langkah, langkahku terhenti setelah menginjak sesuatu. Aku melihatnya. "Ini huruf "A" lho." kata Darren sambil melihat huruf yang terinjak olehku. "Iya. Tul betul betul." kata Nisa mengikuti perkataan Upin dan Ipin. Aku segera mengambil huruf A tersebut. Kami segera berjalan lagi. Setelah berjalan selama 30 menit, kami tiba di padang gurun. Sayang, di padang gurun tiba-tiba terjadi badai pasir. Untuk menghentikannya, aku segera mengeluarkan kekuatanku. "Wind Cutter." teriakku sambil mengeluarkan jurus. Dari badai yang menuju kami, dapat dicegah. Jadi badainya menuju arah berlawanan. Setelah badainya berbalik arah sejauh 10 meter, terbentuk huruf "R". Lalu huruf tersebut menjadi bongkahan tanah liat berbentuk huruf "R". Kami mengambilnya. "Keren juga jurusmu tadi." kata Dinda memujiku. "Terima Kasih." jawabku. "Hahahaha. Sok alim banget kamu nih." kata Darren kepadaku. "Daripada kamu sok jago. Hahahaha." balasku. Karena lelah, kami tidur siang. Beberapa menit kemudian,,,,,,, "Bangun!!!! Cepat!!!!! Ada hujan logam!!!!" teriak Nisa membangunkanku, Darren, Nabil dan Dinda. "Cepet keluatkan jurusmu Dar. Api kan bisa melelehkan logam." kataku.  Darren segera mengeluarkan jurusnya. Untungnya logamnya meleleh dengan cepat. Namun kami khawatir kalau panas besi tersebut jatuh ke kepala kami. Tiba-tiba besi tersebut membeku dan jatuh huruf A lagi. "Ini huruf A. Kemungkinan kalau digabung menjadi LARA. Mungkin kurang huruf S." kata Dinda. Baru selesai Dinda ngomong begitu, huruf S jatuh dari langit ke depan kaki Darren. "Benar. Laras. Mungkin kita harus berdamai dengan genk Laras." kata Nisa. Tiba-tiba, kami langsung berada di loteng sekolah. Ruangan menjadi begitu bersih. Lalu, terdapat sebuah surat di kantungku.

"Kalian anak-anak yang paling membanggakan di sekolah ini. Berdamailah dengan genk Laras. Aku tidak ingin melihat kalian  berantam lagi. "

Salam,


Albert Einstein




Kami segera berdamai dengan gank Laras di rumah sakit. Mereka masuk rumah sakit karena terkena serangan kami. Kami meminta maaf kepada mereka. Dan mereka pun memaafkan kami. Benar-benar pengalaman tak terlupakan.

0 komentar:

Posting Komentar