Gank Laras mengerjai kami. Terpaksa kami melawan dengan mengeluarkan
kekuatan kami. Kami melawan mereka. Dan kami menang. Namun karena
terkena serangan kami, kami membuat sebagian daerah sekolah rusak. Kami
dihukum untuk membersihkan loteng sekolah. "Yah,,, gara-gara gank Laras
kita jadi dihukum," keluh Nabil. "Sudahlah, kita juga yang ngak bisa
mengendalikan diri, jadi ngak tahan emosi, trus keluarin kekuatan. Ya
kan Eva?" kata Dinda. "Iya. Emang kita yang salah." jawabku. "Aduhhh."
teriak Nisa tiba-tiba setelah jatuh tersandung sebuah buku. "Lho, kok
ada buku? Setahuku sekolah ngak pernah nyimpan buku di loteng lho." kata
Darren sambil membuka buku itu. Dibelakangnya ada aku.
"Syukurlah, kalian sudah bangun." kata Darren tiba-tiba. "Yang tercium
dari hidungku adalah bau yang tidak
asing, yaitu bau ketika aku
mengunjungi Darren yang pernah terkena typhus."kata Dinda. Ya, tidak
salah lagi. Ini adalah rumah sakit." pikir Dinda. "Lho, di mana ini?"
tanya Nabil ketika bangun dari tidurnya. "Kata dokter Albert Einstein,
ini adalah dimensi 11." kata Darren. "Jadi, Albert Einstein tidak
meninggal ya?" tanya Dinda yang ada di tempat tidur di sebelahku. "Iya.
Aku tidak meninggal. Aku hanya pergi ke dimensi 11 untuk mencari rumus
baru yang mungkin dibutuhkan oleh bumi. Aku menaruh buku, yaitu buku
untuk masuk ke dimensi 11 di loteng sekolah Einstein, yaitu sekolahku."
jelas Albert Einstein panjang lebar secara tiba-tiba, yang masuk ruangan
seperti kecoak masuk dari lubang bawah pintu tanpa suara. Nabil dan
Dinda berusaha untuk duduk, tapi percuma, sekuat tenaga mereka berusaha,
tetap saja tidak bisa. "Jangan dipaksakan, dada kalian masih luka."
kata Nisa sambil menunjuk dada Nabil dan dada Dinda. "Kok kalian
sehat-sehat saja, sedangkan aku dan Nabil terluka?" tanya Dinda penuh
keheranan. "Pas kita masuk dimensi ke 11, kalian terkena batu dan
pingsan. Dada dan tangan kalian luka. " jelas Darren. "Ohhhhh." jawab
Nabil singkat. "Kalian mau mulai pertualangan baru?" tanya Albert
Einstein yang dari tadi hanya melihat kami ngobrol. "Boleh." jawab kami
semua serentak. "Kalau begitu, akan kuberi Dinda dan Nabil obat untuk
menyembuhkan dada yang sakit." kata Albert Einstein sambil keluar
ruangan. Dua detik kemudian dia kembali sambil membawa 2 tabung minuman.
"Nih, minum. Maka dada kalian tidak akan sakit lagi." kata Albert
Einstein sambil memberi Nabil dan Dinda minuman. "Terima kasih." kata
Nabil kepada Albert Einstein. Nabil dan Dinda segera meneguknya.
Tubuh mereka langsung sehat. "Ini tas untuk kalian berlima. Ada sejumlah
pertualangan yang hanya bisa dilewati oleh 5 anak spesial yang memiliki
kekuatan. Kalianlah orangnya." kata Albert Einstein sambil menyodorkan 5
buah tas kecil. "Kembalilah jika kalian telah selesai menjalani
pertualangan dan bawalah 5 buah huruf. Kalian harus berdamai dengan nama
yang tercipta oleh kelima huruf itu." lanjutnya. "Baiklah." jawab kami.
Ini pintu menuju ke tempat pertualangan." kata Albert Einstein sambil
menunjukkan sebuah pintu yang terdapat di pojok ruangan. Kami segera
memasukinya. "Gelap sekali." keluh Darren. "Setahuku Darren dulu tidak
seperti itu. Darren yang dulu punya banyak akal. Apa akalmu sekarang?"
tanyaku kepada Darren. "Oh iya, coba lihat di tas. " katanya sambil
membuka tas. Terdapat sebuah surat di tasnya Darren.
"Ini adalah tas 11 dimensi. Sebutkan saja apa benda yang kalian inginkan dan itu akan keluar."
Begitu singkat isi surat tersebut. Surat yang sama pun terdapat pada
tasku, Nabil, Dinda, dan Nisa. "Aku ingin senter." kata Darren kepada
tasnya. Tiba-tiba muncullah sebuah senter. Jadi kami menggunakan senter
tersebut untuk menerangi jalan. Setelah lama berjalan, kami merasa haus.
"Ngak usah minta ke tas, minta sama Nisa saja. Dia kan punya kekuatan
air." kata Dinda kepada kami semua. "Iya juga sih." kata Darren
mengiyakan. "Baiklah, ini. Buka mulut kalian," kata Nisa sambil memberi
kami semua dan dirinya sendiri air. Namun sebuah semprotan air meleset
dan mengenai lantai. Sebuah bongkahan berbentuk huruf "L" keluar.
"Ohhhhh. Ini pasti huruf yang diceritakan Dokter Einstein. Tapi kita
masih butuh 4 lagi khan." kataku kepada Darren. "Iya juga sih." kata
Nabil yang dari tadi nguping. "Ihhh, dasar si Nabil ini. Dari tadi
nguping terus kerjanya." marahku kepada Nabil. "Hehehehehe." tawa Nabil
singkat. Kami melanjutkan perjalanan kami. Baru sebelas langkah kami
berjalan, lampu senter redup. "Bagaimana ini?" tanya Dinda khawatir.
"Tenang saja, kita minta lampu terus nyalain pakai listrikku." kata
Nabil sambil menunjukkan gaya superhero. "Hahahaha. Boleh juga sih. Tapi
hentikan gaya konyolmu tersebut." kata Nisa sambil tertawa. "Hahahaha."
kami semua tertawa kecuali Nabil setelah melihat Nabil memajukan
bibirnya sepanjang 2 cm. "Bener-bener mirip bebek lho Bil." goda Darren
kepadanya."Sudahlah. Hentikan main-mainnya." kataku kepada mereka sambil
melerai mereka. Aku segera meminta lampu. Setelah itu, aku memberi
Nabil lampunya."Makasih ya." kata Nabil sambil menghidupkan lampu. "Wow.
Bener-bener terang. Baru jalan 4 langkah, langkahku terhenti setelah
menginjak sesuatu. Aku melihatnya. "Ini huruf "A" lho." kata Darren
sambil melihat huruf yang terinjak olehku. "Iya. Tul betul betul." kata
Nisa mengikuti perkataan Upin dan Ipin. Aku segera mengambil huruf A
tersebut. Kami segera berjalan lagi. Setelah berjalan selama 30 menit,
kami tiba di padang gurun. Sayang, di padang gurun tiba-tiba terjadi
badai pasir. Untuk menghentikannya, aku segera mengeluarkan kekuatanku.
"Wind Cutter." teriakku sambil mengeluarkan jurus. Dari badai yang
menuju kami, dapat dicegah. Jadi badainya menuju arah berlawanan.
Setelah badainya berbalik arah sejauh 10 meter, terbentuk huruf "R".
Lalu huruf tersebut menjadi bongkahan tanah liat berbentuk huruf "R".
Kami mengambilnya. "Keren juga jurusmu tadi." kata Dinda memujiku.
"Terima Kasih." jawabku. "Hahahaha. Sok alim banget kamu nih." kata
Darren kepadaku. "Daripada kamu sok jago. Hahahaha." balasku. Karena
lelah, kami tidur siang. Beberapa menit kemudian,,,,,,, "Bangun!!!!
Cepat!!!!! Ada hujan logam!!!!" teriak Nisa membangunkanku, Darren,
Nabil dan Dinda. "Cepet keluatkan jurusmu Dar. Api kan bisa melelehkan
logam." kataku. Darren segera mengeluarkan jurusnya. Untungnya logamnya
meleleh dengan cepat. Namun kami khawatir kalau panas besi tersebut
jatuh ke kepala kami. Tiba-tiba besi tersebut membeku dan jatuh huruf A
lagi. "Ini huruf A. Kemungkinan kalau digabung menjadi LARA. Mungkin
kurang huruf S." kata Dinda. Baru selesai Dinda ngomong begitu, huruf S
jatuh dari langit ke depan kaki Darren. "Benar. Laras. Mungkin kita
harus berdamai dengan genk Laras." kata Nisa. Tiba-tiba, kami langsung
berada di loteng sekolah. Ruangan menjadi begitu bersih. Lalu, terdapat
sebuah surat di kantungku.
"Kalian anak-anak yang paling membanggakan di sekolah ini. Berdamailah
dengan genk Laras. Aku tidak ingin melihat kalian berantam lagi. "
Salam,
Albert Einstein
Kami segera berdamai dengan gank Laras di rumah sakit. Mereka masuk
rumah sakit karena terkena serangan kami. Kami meminta maaf kepada
mereka. Dan mereka pun memaafkan kami. Benar-benar pengalaman tak
terlupakan.
0 komentar:
Posting Komentar