Mengapa satu budaya organisasi seperti korporasi atau instansi
pemerintah lebih entropis dari yang lain? Entropi budaya adalah mengukur
energi yang terbuang percuma di tempat kerja memang berbeda-beda
prosentasenya, ada yang tinggi dan ada yang rendah, contoh sederhana,
saya umpamakan sebuah organisasi itu adalah sebuah mobil yang memiliki
tingkat konsumsi bahan bakarnya 1: 10, atau setiap satu liter bensin
bisa menjangkau 10 km. Akan tetapi kenyataannya 1 liter bensin yang
dikonsumsi hanya mampu mencapai 5 km saja. Artinya entropi mobil itu
adalah 50% akibat karat dan aus. Entropi budaya yang tinggi akan
menurunkan kinerja organisasi, akibat energi yang terbuang percuma,
sebaliknya entropi rendah maka akan meningkatkan kinerja organisasi
secara efisien.
Entropi budaya di sebuah organisasi sesungguhnya adalah cerminan dari entropi pribadi pemimpinnya, atau warisan entropi pribadi pemimpin sebelumnya. Entropi pribadi dalam suatu organisasi bahkan dilembagakan melalui sistem birokrasi masa lalu yang panjang berbelit dan proses yang membutuhkan hirarki dalam pengambilan setiap keputusan, atau kekakuan karena struktur organisasi yang tidak efisien. Entropi budaya yang disebabkan oleh pemimpin saat ini biasanya muncul dalam bentuk: kontrol berlebihan dan kehati-hatian akibat saling tidak percaya, saling menyalahkan, kompetisi internal, dan ketidakjelasan wewenang.
Entropi budaya organisasi, korporasi atau instansi sesungguhnya adalah refleksi langsung dari entropi pribadi sang pemimpin itu sendiri. Ini adalah jumlah energi ditimbulkan karena ketakutan seorang pemimpin yang diekspresikan dalam interaksi sehari-hari dengan orang-orang dalam organisasi. Kekhawatiran pemimpin dapat menimbulkan tindakan seperti: kontrol berlebih, terlalu berhati-hati dan lain sebagainya.
Penyebab utama entropi pribadi adalah ketakutan di alam bawah sadar dalam pengambilan keputusan. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan penguasaan pribadi, didukung oleh pembelajaran skill kepemimpinan untuk menciptakan keselarasan pribadi (personal alignment).
Penelitian menunjukkan adanya korelasi yang jelas antara pemimpin dengan entropi budaya organisasi. Ada dua hasil penelitian yang cukup ekstrim yang menunjukkan hubungan tersebut yang pertama disebut Pemimpin Entropi Tinggi dan Pemimpin Entropi Rendah. Pemimpin yang memiliki tingkat entropi tinggi akan menghasilkan tim berkinerja rendah. Apabila entropi pribadi 64 persen maka mengakibatkan entropi budaya timnya juga tinggi yaitu 38 persen. Pemimpin entropi rendah mengakibatkan tim berkinerja tinggi, entropi pribadi pemimpinnya relatif rendah sebesar 9 persen, dan entropi budaya tim juga rendah sebesar 7 persen. Artinya pemimpin sesungguhnya adalah penyebab utama dari entropi budaya organisasi, korporasi ataupun instansi.
Cara untuk mengurangi warisan entropis pemimpin masa lalu adalah dengan melakukan: de-layering, re-strukturisasi, dan de-birokratisasi dan transformasi budaya.
Entropi dan Kinerja
Hasil dari studi organisasi 163 di Australia dilakukan oleh Hewitt Associates dan Barrett Values Center 2008 Survei Pekerja Terbaik di Australia dan Selandia Baru (Beanz) menunjukkan korelasi yang kuat antara tingkat entropi dalam sebuah organisasi dan tingkat keterlibatan staff, atau kesungguhan dan keikhlasan dalam bekerja atau sering dinamakan staff engagement.
Dalam risetnya Barrett menemukan bahwa dalam organisasi dengan ‘engagement’ karyawan lebih dari 65 persen dan entropi di bawah 10 persen, maka pertumbuhan pendapatan 35 persen selama periode tiga tahun. Sebaliknya Organisasi dengan skor engagement dalam kisaran 40-65 persen dan entropi lebih besar dari 22 persen memiliki pertumbuhan tiga tahun pendapatan hanya 7 persen. Masih ingat Islandia yang mengumumkan kebangkrutan pada 2008 akibat entropi 54%?
Kesimpulannya, tingkat entropi budaya organisasi sesungguhnya terjadi akibat entopi pribadi pemimpinnya. Dan secara signifikan entropi budaya mempengaruhi kinerja dan prestasi sebuah organisasi, sebuah korporasi atau instansi kita. Sekarang mungkin kita bisa mencoba mereka-reka berapa persen kira-kira tingkat entropi perusahaan-perusahaan di negeri kita? Berapa entropi instansi kita? Dan yang terakhir berapa persen entropi perusahaan raksasa milik kita bersama yang namanya “Indonesia Incorporation ini?”
“Tidak berubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah jiwa mereka sendiri.”•
Entropi budaya di sebuah organisasi sesungguhnya adalah cerminan dari entropi pribadi pemimpinnya, atau warisan entropi pribadi pemimpin sebelumnya. Entropi pribadi dalam suatu organisasi bahkan dilembagakan melalui sistem birokrasi masa lalu yang panjang berbelit dan proses yang membutuhkan hirarki dalam pengambilan setiap keputusan, atau kekakuan karena struktur organisasi yang tidak efisien. Entropi budaya yang disebabkan oleh pemimpin saat ini biasanya muncul dalam bentuk: kontrol berlebihan dan kehati-hatian akibat saling tidak percaya, saling menyalahkan, kompetisi internal, dan ketidakjelasan wewenang.
Entropi budaya organisasi, korporasi atau instansi sesungguhnya adalah refleksi langsung dari entropi pribadi sang pemimpin itu sendiri. Ini adalah jumlah energi ditimbulkan karena ketakutan seorang pemimpin yang diekspresikan dalam interaksi sehari-hari dengan orang-orang dalam organisasi. Kekhawatiran pemimpin dapat menimbulkan tindakan seperti: kontrol berlebih, terlalu berhati-hati dan lain sebagainya.
Penyebab utama entropi pribadi adalah ketakutan di alam bawah sadar dalam pengambilan keputusan. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan penguasaan pribadi, didukung oleh pembelajaran skill kepemimpinan untuk menciptakan keselarasan pribadi (personal alignment).
Penelitian menunjukkan adanya korelasi yang jelas antara pemimpin dengan entropi budaya organisasi. Ada dua hasil penelitian yang cukup ekstrim yang menunjukkan hubungan tersebut yang pertama disebut Pemimpin Entropi Tinggi dan Pemimpin Entropi Rendah. Pemimpin yang memiliki tingkat entropi tinggi akan menghasilkan tim berkinerja rendah. Apabila entropi pribadi 64 persen maka mengakibatkan entropi budaya timnya juga tinggi yaitu 38 persen. Pemimpin entropi rendah mengakibatkan tim berkinerja tinggi, entropi pribadi pemimpinnya relatif rendah sebesar 9 persen, dan entropi budaya tim juga rendah sebesar 7 persen. Artinya pemimpin sesungguhnya adalah penyebab utama dari entropi budaya organisasi, korporasi ataupun instansi.
Cara untuk mengurangi warisan entropis pemimpin masa lalu adalah dengan melakukan: de-layering, re-strukturisasi, dan de-birokratisasi dan transformasi budaya.
Entropi dan Kinerja
Hasil dari studi organisasi 163 di Australia dilakukan oleh Hewitt Associates dan Barrett Values Center 2008 Survei Pekerja Terbaik di Australia dan Selandia Baru (Beanz) menunjukkan korelasi yang kuat antara tingkat entropi dalam sebuah organisasi dan tingkat keterlibatan staff, atau kesungguhan dan keikhlasan dalam bekerja atau sering dinamakan staff engagement.
Dalam risetnya Barrett menemukan bahwa dalam organisasi dengan ‘engagement’ karyawan lebih dari 65 persen dan entropi di bawah 10 persen, maka pertumbuhan pendapatan 35 persen selama periode tiga tahun. Sebaliknya Organisasi dengan skor engagement dalam kisaran 40-65 persen dan entropi lebih besar dari 22 persen memiliki pertumbuhan tiga tahun pendapatan hanya 7 persen. Masih ingat Islandia yang mengumumkan kebangkrutan pada 2008 akibat entropi 54%?
Kesimpulannya, tingkat entropi budaya organisasi sesungguhnya terjadi akibat entopi pribadi pemimpinnya. Dan secara signifikan entropi budaya mempengaruhi kinerja dan prestasi sebuah organisasi, sebuah korporasi atau instansi kita. Sekarang mungkin kita bisa mencoba mereka-reka berapa persen kira-kira tingkat entropi perusahaan-perusahaan di negeri kita? Berapa entropi instansi kita? Dan yang terakhir berapa persen entropi perusahaan raksasa milik kita bersama yang namanya “Indonesia Incorporation ini?”
“Tidak berubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah jiwa mereka sendiri.”•
0 komentar:
Posting Komentar