Sabtu, 15 Desember 2012

Rabu, 12 Desember 2012

Cerita cerdas

EDISI 1

Selasa, 11 Desember 2012

MATERI AJAR MATEMATIKA XII IPA BAB BARISAN DAN DERET

Standar Kompetensi
4.Menggunakan konsep barisan dan deret dalam pemecahan masalah
Kompetensi Dasar
4.1.Menentukan suku ke-n barisan dan jumlah n suku deret aritmetika dan geometri
4.2.Menggunakan notasi sigma dalam deret dan induksi matematika dalam pembuktian
4.3.Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan deret
4.4.Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan deret dan penafsirannya
Indikator

  1. Menjelaskan arti barisan dan deret
  2. Menemukan rumus barisan dan deret aritmatika
  3. Menemukan rumus barisan dan deret geometri
  4. Menghitung suku ke-n dan jumlah n suku deret aritmetika dan deret geometri.
  5. Menuliskan suatu deret dengan notasi sigma.
  6. Menggunakan induksi matematika dalam pembuktian.
  7. Mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan deret.
  8. Merumuskan model matematika dari masalah deret
  9. Menentukan penyelesaian model matematika yang berkaitan dengan deret
  10. Memberikan tafsiran terhadap hasil penyelesaian yang diperoleh
A.Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat
  • menjelaskan ciri barisan aritmetika dan barisan geometri;
  • merumuskan suku ke-n barisan aritmetika dan jumlah n suku deret arit¬metika;
  • menentukan suku ke-n barisan aritmetika dan jumlah n suku deret aritmetika;
  • merumuskan suku ke-n barisan geometri dan jumlah n suku deret geometri;
  • menentukan suku ke-n barisan geometri dan jumlah n suku deret geometri;
  • menjelaskan ciri deret geometri tak berhingga yang mempunyai jumlah;
  • menghitung jumlah deret geometri tak berhingga.
B.Materi Pembelajaran
  • Pola Bilangan
  • Barisan Bilangan
  • Barisan dan deret Aritmatika dan Geometri
  • Notasi Sigma
  • Induksi Matematika
  • Model Matematika dari masalah deret
  • Solusi dari masalah deret

Soal sosiologi


BIDANG STUDI : SOSIOLOGI
KELAS : XII (DUABELAS)

1. Dibawah ini merupakan tujuan penelitian kecuali....
a. Mendaptkan pengetahuan baru
b. Mengembangkan suatu teori
c. Mencari kemakmuran
d. Menguji kbenaran
e. Menggalli suatu problematikan yang muncul.

2. Dalam penelitian ilmih langkah awal yang perlu dilakukan adalah...

Entropi Budaya, Dari Mana Berasal?

Mengapa satu budaya organisasi seperti korporasi atau instansi pemerintah lebih entropis dari yang lain? Entropi budaya adalah mengukur energi yang terbuang percuma di tempat kerja memang berbeda-beda prosentasenya, ada yang tinggi dan ada yang rendah, contoh sederhana, saya umpamakan sebuah organisasi itu adalah sebuah mobil yang memiliki tingkat konsumsi bahan bakarnya 1: 10, atau setiap satu liter bensin bisa menjangkau 10 km. Akan tetapi kenyataannya 1 liter bensin yang dikonsumsi hanya mampu mencapai 5 km saja. Artinya entropi mobil itu adalah 50% akibat karat dan aus. Entropi budaya yang tinggi akan menurunkan kinerja organisasi, akibat energi yang terbuang percuma, sebaliknya entropi rendah maka akan meningkatkan kinerja organisasi secara efisien.

Jumat, 07 Desember 2012

Kapan Aku Melihat Indahnya Pelangi?


Pelangi bidadari langit dengan lengkung garis indah penuh warna (kata orang-orang). Seringai keindahan pelangi mampu dikagumi banyak orang, tapi aku? Kepala ini tertunduk entah menatap apa yang ada dihadapan, semua terlihat gelap. Jari telunjuk ini kuputar hendak menggambar sesuatu. Terdengar suara anak-anak berlarian dengan teriakan girang menyerukan datangnya bidadari langit. Aku ingin mengikuti mereka yang berlarian, tapi mustahil. Tangan kukibas-kibaskan memastikan keadaan di sekelilingku.
“Bunda, bunda!” seseorang menggenggam tanganku dengan sigap tetapi halus dan penuh kasih saying. Ya, itu bundaku. Tidak cukup puas aku memastikan keadaan di sekelilingku, “Bunda, ada pelangi ya? Bunda bunda! Bagaimana bidadarinya? Cantikkah? Indahkah? Ceritakan bunda!” jari-jariku menggenggam erat jari bunda, menginginkan kepastian atas apa yagn aku tanyakan.
Aku masih hening menunggu jawaban dari bunda, tapi tak terdengar apapun, aku membuka mulutku dengan kepastian mendalam, “kenapa bunda diam?”
Bunda memecah suasana bungkam, “iya kencana, bunda lihat itu. Pelangi itu indah sekali.” Genggaman tangan bunda semakin erat melingkar dijemari, mengusap lembut keningku.
“Sungguh bunda? Bagaimana denganku? Kapan aku bisa melihat pelangi itu? Seperti mereka bunda? Berlarian. Pelangi itu indah hanya dalam angan-anganku. Semuanya gelap.”
“Nak, Tuhan saying padamu sama seperti mereka yang mampu melihat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk melihat pelangi. Pegang kedua pipimu dengan telapak tanganmu, kamu rasakan, dan itulah pelangi milik bunda yang terindah. Kalau kamu melihat sekelilingmu gelap, peluk bunda. Kasih saying bunda jauh lebih berwarna daripada pelangi.”
Mensyukuri apa yang kita punya, jauh lebih indah daripada pelangi.
Itu cerpen buatan adek kelas gue di perkuliahan. Namanya ‘Windy R’. Sebenarnya gue tau nama kepanjangannya apa, cuma layaknya sesama penulis (bedanya dia penulis cerpen keren gue penulis cerita aib sendiri) mesti saling menulis nama pena-nya penulis. (cei-lah bahasanya tinggi banget yak)
Menurut gue ceritanya awal-awal sih biasa, tapi akhirnya agak ‘sad’ yah? Gue gak tau si Windy itu kursus bikin cerpen yang keren dan bikin mewek dimana, cuma table maner dia kayaknya kurang bagus. Soalnya Buletinnya kan dibaca dosen juga paling gak kan. Terus kalo pas lagi rapat ama jejeran senat, rektor dan dekan si dosen malah baca cerpen si Windy terus mewek-mewek sendiri gimana yak? Repot juga ntar yang pengurus Buletin MEDIASI-nya. Jadi bingung gue. Well, dari pada bingung udah dulu yak? Temu lagi besok2 yak. Hahahaha.

Journey To The Other Dimention

Gank Laras mengerjai kami. Terpaksa kami melawan dengan mengeluarkan kekuatan kami. Kami melawan mereka. Dan kami menang. Namun karena terkena serangan kami, kami membuat sebagian daerah sekolah rusak. Kami dihukum untuk membersihkan loteng sekolah. "Yah,,, gara-gara gank Laras kita jadi dihukum," keluh Nabil. "Sudahlah, kita juga yang ngak bisa mengendalikan diri, jadi ngak tahan emosi, trus keluarin kekuatan. Ya kan Eva?" kata Dinda. "Iya. Emang kita yang salah." jawabku. "Aduhhh." teriak Nisa tiba-tiba setelah jatuh tersandung sebuah buku. "Lho, kok ada buku? Setahuku sekolah ngak pernah nyimpan buku di loteng lho." kata Darren sambil membuka buku itu. Dibelakangnya ada aku.


"Syukurlah, kalian sudah bangun." kata Darren tiba-tiba. "Yang tercium dari hidungku adalah bau yang tidak